Ada lagu yang tidak berusaha terdengar manis. Ia datang tanpa basa-basi, tanpa niat untuk dirangkul semua orang. Heartless Man adalah salah satunya. Dalam lagu ini, Morad tidak sedang mencari simpati, ia hanya bercerita, apa adanya.
Sejak awal, nuansa dingin terasa dominan. Bukan dingin yang kosong, melainkan dingin yang terbentuk dari terlalu banyak benturan hidup. Heartless bukan berarti tak memiliki perasaan. Justru sebaliknya: perasaan itu pernah ada, namun terlalu sering dipatahkan. Sampai pada titik di mana bertahan hidup terasa lebih masuk akal daripada kembali merasa.
Morad menyampaikan kisah seseorang yang perlahan belajar untuk tidak lagi berharap. Dunia yang ia gambarkan keras, dipenuhi pengkhianatan kecil, janji-janji yang tidak pernah selesai, dan hubungan yang berakhir tanpa kejelasan. Dari sana, tembok dibangun, bukan untuk menyerang siapa pun, tapi untuk melindungi diri.
Yang membuat lagu ini terasa dekat adalah caranya bercerita. Tidak mengeluh, tidak meledak-ledak. Narasinya datar dan jujur, seperti percakapan singkat dengan seseorang yang sudah lelah menjelaskan rasa sakitnya pada dunia. Tidak meminta dimengerti, hanya ingin didengar atau bahkan tidak sama sekali.
Heartless Man adalah potret tentang bertahan hidup dengan cara sendiri. Tentang menerima bahwa, pada titik tertentu, menjadi “tidak peduli” adalah bentuk paling jujur dari mekanisme bertahan. Lagu ini terasa tepat diputar di malam hari, ketika pikiran terlalu ramai dan kita tidak ingin dinasihati, hanya ditemani.
Karena pada akhirnya, tidak semua orang menjadi dingin karena ingin. Sebagian hanya terlalu sering terluka.
The heartless man, the ghost of the heart.