Dalam perjalanan kehidupan yang ugal, atau penuh riuh kebisingan tentang bagaimana diri menentukan jatinya, penerimaan, pencarian dan perlawanan terhadap norma-norma tertentu, Lagu “Listen Up” dari Oasis seperti sesuatu hal yang lain tentang keberanian untuk menyatakan hidup.
Dalam liriknya, “Listen Up” seperti pidato komandan perang yang bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi dalam hidupnya, sebagai bentuk ekspresi terhadap pemikiran dan tindakan individu seseorang yang bebas.
Dengan aransemen dan melodi-melodi khas Oasis yang lugas, tanpa tempo yang cepat, namun tetap terasa rock dan magis, Noel menyimpan memorandum lagu ini dengan menyapa pendengar seperti seseorang yang sedang berjalan dalam lorong waktu, antara kegelapan dunia yang kelam untuk menyatakan: Dengarkan, hari ini, aku ingin bicara.
Lagu ini, seperti dalam pikirannya, tentang seseorang yang menjadikan dirinya seorang yang heroik namun kesepian, seperti layaknya seseorang yang heroik, ia tidak peduli, ini tentang pencarian lain, mencari jalan untuk pulang ke ‘rumah’, meski harus sedikit lesu kepayahan.
Dan itu mengajarkan bahwa beberapa hal dalam hidup semestinya tidak harus bergantung kepada orang lain, dengan lantang menyatakan “lihatlah, dan bawa aku kepada puncak dimana aku telah melihat seluruh penghabisan dalam hidupku”.
Hingga, setelah semuanya, magisnya kehidupan atau seperti takdir kehidupan yang otomatis, apapun itu ia akan menyusuri kehidupan seperti seseorang yang melintasi sungai sendirian dengan perahu kayu tua, untuk mencari arti pulang sesungguhnya.
Sampai menyadari sesuatu hal, bahwa dalam hidup, kita akan sendirian, kita adalah pahlawan untuk diri kita sendiri, kita adalah yang mampu mengendalikan apa yang kita bisa kontrol dalam keseluruhan hidup ini.
“No, i don’t mind being own my own”
Demikian, lagu itu, ditutup rapat-rapat dengan penggalan lirik yang sederhana namun lugas, cukup untuk menyatakan sesuatu tentang kehidupan dan pencarian diri.
Lagu ini, tidak serta-merta tentang seorang yang kelelahan dengan kegilaan dunia, ini seperti kompas dalam dirinya, seperti suara hati seseorang yang paling mendalam terhadap masalah individual dalam kelompok masyarakat, atau lagu ini yang bisa kukatakan seperti suara remahan langkah kaki diatas koran. Berjalan, sendiri dan terus hidup.